The Thirty-Seven Practices of All the Bodhisattvas

The Thirty-Seven Practices of All the Bodhisattvas

 

Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattwa

Oleh Ngülchu Thogme Zangpo

 

Namo Lokeshvaraya!

Kepada Guru Agung dan Pelindung, Avalokiteswara, yang meskipun telah melihat semua fenomena tidaklah datang maupun pergi, namun tetap berjuang sepenuhnya demi kesejahteraan para migrator (makhluk yang masih di dalam samasara), aku selalu bersujud dengan tubuh, ucapan, dan pikiran yang penuh rasa hormat.

Para Buddha yang sempurna, sumber dari segala manfaat dan kebahagiaan, muncul setelah menggenapkan Dharma yang suci. Karena pencapaian itu tergantung pada mengetahui amalan-amalan Dharma, maka aku akan menjelaskan amalan-amalan Bodhisattwa berikut ini.

 

1) Ketika kapal besar berisi kebebasan dan berkah (tubuh yang berharga dengan 18 kondisi kelahiran istimewa) yang sangat sulit diperoleh telah didapatkan sekarang, maka mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan tanpa henti siang dan malam guna membebaskan diri sendiri dan semua makhluk dari lautan samsara adalah amalan Bodhisattva.

 

2) Pikiran yang melekat pada teman dan sanak saudara mengalir bagai air. Pikiran yang penuh kebencian terhadap musuh membakar bagai api. Pikiran Ketidaktahuan yang melupakan apa yang harus diterima dan ditolak sangatlah kabur. Meninggalkan kampung halaman sendiri adalah amalan Bodhisattwa.

 

3) Kala tempat-tempat yang berbahaya ditinggalkan, kekotoran batin pun berangsur-angsur memudar. Tanpa gangguan, meningkatlah upaya kebajikan secara alami. Batin menjadi jernih, muncullah keyakinan yang teguh pada Dharma. Maka dari itu, bersunyi-sunyi adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Teman yang telah lama bersama akhirnya akan saling berpisah juga. Harta benda yang telah susah payah diperoleh akan ditinggal. Kesadaran, sang tamu, akan mencampakkan pemondokan tubuh. Oleh karena itu, melepas dan membebaskan diri dari perhatian terhadap kehidupan duniawi adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Manakala bergaul dengan teman-teman yang buruk, tiga racun meningkat, aktivitas mendengar, merenung, dan meditasi menurun, dan cinta kasih dan welas asih padam. Maka dari itu, meninggalkan teman-teman yang buruk adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Ketika sahabat-sahabat spiritual yang agung diandalkan, lenyaplah seluruh kesalahan dan berbagai kualitas diri meningkat bagai bulan yang semakin bulat. Oleh karena itu, mengasihi sahabat-sahabat spiritual sejati bahkan melebihi tubuh sendiri adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Bagaimana dewa yang sendirinya masih terbelenggu di dalam penjara samsara dapat melindungi yang lain? Maka dari itu, saat mencari perlindungan, berlindung pada Triratna yang tidak menipu adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Bhagawa bersabda bahwa semua penderitaan yang tak tertahankan di tiga alam rendah adalah buah dari perbuatan yang salah. Oleh karena itu, tidak pernah akan melakukan perbuatan jahat sekalipun nyawa adalah taruhannya adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Kesenangan di tiga alam bagaikan setetes embun di ujung rumput yang sesaat saja terancam lenyap. Maka dari itu, memperjuangkan keadaan batin tertinggi, pembebasan yang tidak pernah berubah, adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Ketika ibunda-ibunda yang telah mengasihi kita sejak dari masa tak berawal sedang menderita, apa gunanya kebahagiaan pribadi kita? Oleh karena itu, menumbuh-kembangkan bodhicitta untuk membebaskan makhluk yang tiada batas jumlahnya adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Semua penderitaan tanpa kecuali bersumber dari menginginkan kebahagiaan sendiri. Para Buddha yang sempurna muncul dari pikiran yang mengutamakan kesejahteraan makhluk lain. Oleh karena itu, menukar sepenuhnya kebahagiaan kita dengan derita makhluk lain adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun orang lain, karena dipengaruhi nafsu besar, mencuri seluruh harta kekayaan kita atau menghasut orang lain untuk melakukannya, melimpahkan ke mereka tubuh kita, harta benda, dan kebajikan yang telah kita kumpulkan selama tiga masa adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun orang lain memenggal kepala kita padahal kita sama sekali tidak bersalah, mengalihkan seluruh perbuatan jahat mereka ke diri kita sendiri dengan kekuatan welas asih adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun seseorang mengumandangkan ke semiliar dunia segala bentuk hujatan ke kita, membicarakan balik berbagai kualitas baik orang tersebut dengan pikiran cinta kasih adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun seseorang menyingkap berbagai kesalahan kita dan menjelek-jelekkan kita di tengah pertemuan umum, dengan penuh kerendahan hati memberi hormat kepada orang itu dan memandangnya sebagai sahabat spiritual adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun orang yang telah kita rawat, kita lindungi, dan kita kasihi seperti anak sendiri, memusuhi kita, lebih mengasihi orang itu seperti yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya sedang sakit adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun, di bawah pengaruh kesombongan, orang yang sejajar dengan atau kurang dari kita memperlakukan kita dengan hina, dengan penuh rasa hormat menempatkan dia seperti guru ke atas kepala kita adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Meskipun kita hidup dalam kekurangan, terus menerus dihina orang, mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dan digentayangi setan jahat, tapi tidak putus asa dan tetap mengambil alih seluruh kesalahan dan penderitaan makhluk hidup adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Sekalipun kita terkenal dan dihormati banyak orang atau memperoleh kekayaan yang setara dengan kekayaan dewa rezeki, menyadari bahwa kekayaan duniawi tidak berinti dan tidak menjadi sombong adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Jika musuh-musuh luar dihancurkan tapi kita tidak menundukkan musuh di dalam yaitu kebencian kita sendiri, maka jumlah musuh luar hanya akan bertambah. Oleh karena itu, menjinakkan pikiran kita sendiri dengan bala tentara cinta kasih dan welas asih adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Seberapa pun banyaknya kesenangan indera dinikmati, bagaikan minum air asin, kemelekatan akan tetap meningkat. Meninggalkan seketika apa yang menyebabkan kemelekatan adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Semua kenampakan adalah pikiran kita sendiri. Hakikat pikiran adalah bebas dari elaborasi konseptual sejak dari masa tak berawal. Mengetahui hal ini dan tidak melibatkan pikiran ke dalam dualitas subyek-obyek adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Manakala bertemu obyek-obyek yang menyenangkan indera, meskipun mereka tampak indah bagai pelangi di musim panas, tidak menganggapnya nyata serta meninggalkan kemelekatan dan kerinduan adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Seluruh jenis penderitaan bagaikan kematian seorang anak dalam mimpi. Menganggap kenampakan yang ilusif sebagai benar-benar ada—sungguh melelahkan! Manakala bertemu dengan kondisi yang tidak baik, melihatnya sebagai delusi adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Jika perlu tubuh pun akan diberikan saat bercita-cita untuk pencerahan, apalagi obyek luar? Oleh karena itu, mengamalkan kemurahan hati tanpa mengharapkan imbalan atau karma baik adalah amalan Bodhisattwa. (Dana Paramita)

 

  • Jika, karena kurang menjaga sila, kita gagal mencapai tujuan sendiri, kehendak untuk mencapai tujuan orang lain hanyalah lelucon belaka. Maka dari itu, menjaga sila tanpa disertai cita-cita untuk eksistensi duniawi adalah amalan Bodhisattwa. (Sila Paramita)

 

  • Bagi para Bodhisattwa yang menginginkan harta kebajikan, semua yang menyakiti bagaikan harta karun yang berharga. Oleh karena itu, mengolah kesabaran tanpa disertai permusuhan adalah amalan Bodhisattwa. (Ksanti Paramita)

 

  • Bahkan para shrawaka dan pacekabuddha, yang tujuannya hanya kesejahteraan mereka sendiri, berjuang bagaikan sedang memadamkan api di atas kepala mereka. Melihat hal ini, dengan penuh semangat berjuang pantang mundur—sumber kualitas-kualitas baik—demi semua makhluk adalah amalan Bodhisattwa. (Virya Paramita)

 

  • Setelah mengerti bahwa kekotoran batin dihancurkan oleh melihat secara mendalam (vipashyana) yang ditunjang oleh berdiam dalam ketenangan (shamatha), maka, mengolah konsentrasi meditatif yang secara sempurna melampaui Empat Arupa Dhyana adalah amalan Bodhisattwa. (Dhyana Paramita)

 

  • Tanpa kebijaksanaan, mustahil akan mencapai pencerahan sempurna hanya melalui kelima paramita ini saja. Dengan demikian, mengolah upaya kausalya disertai kebijaksanaan yang tidak membeda-bedakan subyek, obyek, dan interaksi keduanya adalah amalan Bodhisattwa. (Prajna Paramita)

 

  • Jika, hanya tampilannya saja seorang praktisi, kita tidak menyelidiki kesalahan sendiri, bisa saja kita melakukan tindakan yang tidak sesuai Dharma. Maka dari itu, selalu mencermati kesalahan sendiri dan meninggalkannya adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Jika, di bawah pengaruh emosi-emosi yang mengganggu, kita tunjukkan kesalahan Bodhisattwa lain, kita akan mengalami kemunduran. Oleh karena itu, tidak membicarakan kesalahan-kesalahan dari mereka yang telah masuk ke Kendaraan Besar (Mahayana) adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Karena pengaruh keuntungan dan penghormatan menyebabkan pertikaian dan menurunnya aktivitas mendengar, merenung, dan meditasi, maka melepaskan kemelekatan terhadap rumah tangga sahabat, hubungan, dan para penyokong adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Karena kata-kata kasar mengganggu pikiran orang lain dan menyebabkan mundurnya laku Bodhisattwa, maka meninggalkan kata-kata kasar yang tidak menyenangkan orang lain adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Ketika terbiasa dengan emosi-emosi yang mengganggu, akan sulit mengatasi mereka dengan obat-obat penawarnya. Mempersenjatai diri kita dengan obat perhatian murni dan keawasan, guna menghancurkan kekotoran batin seperti nafsu begitu mereka pertama kali muncul adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Singkatnya, apapun yang sedang kita lakukan, tanyalah, “Apa keadaan batinku.” Merampungkan tujuan orang lain dengan terus menerus mempertahankan kesadaran dan keawasan adalah amalan Bodhisattwa.

 

  • Melenyapkan penderitaan makhluk yang tak terhitung jumlahnya, melalui kebijaksanaan yang sepenuhnya bebas dari pembedaan dualistik dan melimpahkan kebajikan yang diperoleh dari melakukan upaya untuk pencerahan adalah amalan Bodhisattwa.

 

Mengikuti ujaran para Suciwan tentang makna berbagai sutra, tantra, beserta ulasan-ulasannya, saya telah menuliskan Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattwa untuk mereka yang ingin berlatih di Jalur Bodhisattwa.

 

Dikarenakan kurangnya kecerdasan dan pembelajaran saya, maka tulisan ini bukanlah puisi yang akan menyenangkan para sarjana, namun karena saya mengandalkan berbagai sutra dan ujaran para Suciwan, saya pikir amalan-amalan Bodhisattwa ini tidak keliru.

 

Namun karena sulit bagi orang yang kecerdasannya kurang seperti saya ini untuk memahami kedalaman perbuatan-perbuatan para Bodhisattwa, saya memohon para Suciwan untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saya seperti kontradiksi dan penalaran yang tidak logis.

 

Melalui kebajikan yang muncul dari penulisan ini, semoga semua migrator, melalui bodhicitta konvensional dan bodhicitta ultimit, menjadi seperti sang Pelindung, Chenrezig yang tidak menetap di ekstrim eksistensi ataupun ekstrim kedamaian.

 

Tulisan ini ditulis untuk manfaat dirinya dan orang lain oleh Biksu Thogme, seorang eksponen sutra dan logika, di goa Ngulchu Rinchen.

Atas permintaan Garchen Triptrül Rinpoche, terjemahan ini diselesaikan pada tahun 1999 oleh Ari-ma, muridnya. Revisi-revisi tambahan dilakukannya pada musim panas tahun 2002. Hak cipta terjemahan Inggris Ari Kiev 2002. Teks ini untuk reproduksi dan distribusi  gratis. Dihakciptakan semata-mata untuk otentikasi.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Karma Tamcho, diedit oleh Konchok Tashi.   

 

The Thirty-Seven Practices of All the Bodhisattvas

by Gyalse Tokme Zangpo

Namo Lokeśvaraye!

You see that all things are beyond coming and going,
Yet still you strive solely for the sake of living beings—
To you, my precious guru inseparable from Lord Avalokita,
I offer perpetual homage, respectfully, with body, speech and mind.

The perfect buddhas, who are the source of all benefit and joy,
Come into being through accomplishing the sacred Dharma.
And since this in turn depends on knowing how to practise,
I shall now describe the practices of all the buddhas’ heirs.

  1. The practice of all the bodhisattvas is to study, reflect and meditate,
    Tirelessly, both day and night, without ever straying into idleness,
    In order to free oneself and others from this ocean of saṃsāra,
    Having gained this supreme vessel—a free, well-favoured human life, so difficult to find.

  2. The practice of all the bodhisattvas is to leave behind one’s homeland,
    Where our attachment to family and friends overwhelms us like a torrent,
    While our aversion towards enemies rages inside us like a blazing fire,
    And delusion’s darkness obscures what must be adopted and abandoned.

  3. The practice of all the bodhisattvas is to take to solitary places,
    Avoiding the unwholesome, so that destructive emotions gradually fade away,
    And, in the absence of distraction, virtuous practice naturally gains strength;
    Whilst, with awareness clearly focused, we gain conviction in the teachings.

  4. The practice of all the bodhisattvas is to renounce this life’s concerns,
    For friends and relatives, long acquainted, must all go their separate ways;
    Wealth and prized possessions, painstakingly acquired, must all be left behind;
    And consciousness, the guest who lodges in the body, must in time depart.

  5. The practice of all the bodhisattvas is to avoid destructive friends,
    In whose company the three poisons of the mind grow stronger,
    And we engage less and less in study, reflection and meditation,
    So that love and compassion fade away until they are no more.

  6. The practice of all the bodhisattvas is to cherish spiritual friends,
    By regarding them as even more precious than one’s own body,
    Since they are the ones who will help to rid us of all our faults,
    And make our virtues grow ever greater just like the waxing moon.

  7. The practice of all the bodhisattvas is to take refuge in the Three Jewels,
    Since they will never fail to provide protection for all who call upon them,
    For whom are the ordinary gods of this world ever capable of helping,
    As long as they themselves are trapped within saṃsāra’s vicious cycle?

  8. The practice of all the bodhisattvas is never to commit a harmful act,
    Even though not to do so might put one’s very life at risk,
    For the Sage himself has taught how negative actions will ripen
    Into the manifold miseries of the lower realms, so difficult to endure.

  9. The practice of all the bodhisattvas is to strive towards the goal,
    Which is the supreme state of changeless, everlasting liberation,
    Since all the happiness of the three realms lasts but a moment,
    And then is quickly gone, just like dewdrops on blades of grass.

  10. The practice of all the bodhisattvas is to arouse bodhicitta,
    So as to bring freedom to all sentient beings, infinite in number.
    For how can true happiness ever be found while our mothers,
    Who have cared for us throughout the ages, endure such pain?

  11. The practice of all the bodhisattvas is to make a genuine exchange
    Of one’s own happiness and wellbeing for all the sufferings of others.
    Since all misery comes from seeking happiness for oneself alone,
    Whilst perfect buddhahood is born from the wish for others’ good.

  12. Even if others, in the grips of great desire, should steal,
    Or encourage others to take away, all the wealth that I possess,
    To dedicate to them entirely my body, possessions and all my merits
    From the past, present and future— this is the practice of all the bodhisattvas.

  13. Even if others should seek to cut off my head,
    Though I’ve done them not the slightest wrong,
    To take upon myself, out of compassion,
    All the harms they have amassed—this is the practice of all the bodhisattvas.

  14. Even if others should declare before the world
    All manner of unpleasant things about me,
    To speak only of their qualities in return,
    With a mind that’s filled with love—this is the practice of all the bodhisattvas.

  15. Even if others should expose my hidden faults or deride me
    When speaking amidst great gatherings of many people,
    To conceive of them as spiritual friends and to bow
    Before them in respect—this is the practice of all the bodhisattvas.

  16. Even if others whom I have cared for like children of my own
    Should turn upon me and treat me as an enemy,
    To regard them only with special fondness and affection,
    As a mother would her ailing child—this is the practice of all the bodhisattvas.

  17. Even if others, equal or inferior to me in status,
    Should, out of arrogance, disparage me,
    To honour them, as I would my teacher,
    By bowing down my head before them—this is the practice of all the bodhisattvas.

  18. Even though I may be destitute and despised by all,
    Beset with terrible illness and plagued by evil spirits,
    Still to take upon myself all beings’ ills and harmful actions,
    Without ever losing heart—this is the practice of all the bodhisattvas.

  19. Even though I may be famous and revered by all,
    And as rich as Vaiśravaṇa, the god of wealth himself,
    To see the futility of all the glory and riches of this world
    And to remain without conceit—this is the practice of all the bodhisattvas.

  20. The practice of all the bodhisattvas is to subdue the mind
    With the forces of loving kindness and compassion.
    For unless the real adversary—my own anger—is defeated,
    Outer enemies, though I may conquer them, will continue to appear.

  21. The practice of all the bodhisattvas is to turn away immediately
    From those things which bring desire and attachment.
    For the pleasures of the senses are just like salty water:
    The more we taste of them, the more our thirst increases.

  22. The practice of all the bodhisattvas is never to entertain concepts,
    Which revolve around dualistic notions of perceiver and perceived,
    In the knowledge that all these appearances are but the mind itself,
    Whilst mind’s own nature is forever beyond the limitations of ideas.

  23. The practice of all the bodhisattvas is to let go of grasping
    When encountering things one finds pleasant or attractive,
    Considering them to be like rainbows in the summer skies—
    Beautiful in appearance, yet in truth devoid of any substance.

  24. The practice of all the bodhisattvas is to recognize delusion
    Whenever one is confronted by adversity or misfortune.
    For these sufferings are just like the death of a child in a dream,
    And it’s so exhausting to cling to delusory perceptions as real.

  25. The practice of all the bodhisattvas is to give out of generosity,
    With no hopes of karmic recompense or expectation of reward.
    For if those who seek awakening must give even their own bodies,
    What need is there to mention mere outer objects and possessions?

  26. The practice of all the bodhisattvas is to observe ethical restraint,
    Without the slightest intention of continuing in saṃsāric existence.
    For lacking discipline one will never secure even one’s own wellbeing,
    And so any thought of bringing benefit to others would be absurd.

  27. The practice of all the bodhisattvas is to cultivate patience,
    Free from any trace of animosity towards anyone at all,
    Since any potential source of harm is like a priceless treasure
    To the bodhisattva who is eager to enjoy a wealth of virtue.

  28. The practice of all the bodhisattvas is to strive with enthusiastic diligence—
    The source of all good qualities—when working for the sake of all who live;
    Seeing that even śrāvakas and pratyekabuddhas, who labour for themselves alone,
    Exert themselves as if urgently trying to extinguish fires upon their heads.

  29. The practice of all the bodhisattvas is to cultivate concentration,
    Which utterly transcends the four formless absorptions,
    In the knowledge that mental afflictions are overcome entirely
    Through penetrating insight suffused with stable calm.

  30. The practice of all the bodhisattvas is to cultivate wisdom,
    Beyond the three conceptual spheres, alongside skilful means,
    Since it is not possible to attain the perfect level of awakening
    Through the other five pāramitās alone, in wisdom’s absence.

  31. The practice of all the bodhisattvas is to scrutinize oneself
    Continually and to rid oneself of faults whenever they appear.
    For unless one checks carefully to find one’s own confusion,
    One might appear to be practising Dharma, but act against it.

  32. The practice of all the bodhisattvas is never to speak ill
    Of others who have embarked upon the greater vehicle,
    For if, under the influence of destructive emotions,
    I speak of other bodhisattvas’ failings, it is I who am at fault.

  33. The practice of all the bodhisattvas is to let go of attachment
    To the households of benefactors and of family and friends,
    Since one’s study, reflection and meditation will all diminish
    When one quarrels and competes for honours and rewards.

  34. The practice of all the bodhisattvas is to avoid harsh words,
    Which others might find unpleasant or distasteful,
    Since abusive language upsets the minds of others,
    And thereby undermines a bodhisattva’s conduct.

  35. The practice of all the bodhisattvas is to slay attachment
    And the rest—mind’s afflictions—at once, the very moment they arise,
    Taking as weapons the remedies held with mindfulness and vigilance.
    For once the kleshas have become familiar, they’ll be harder to avert.

  36. In short, no matter what one might be doing,
    By examining always the status of one’s mind,
    With continuous mindfulness and alertness,
    To bring about the good of others—this is the practice of all the bodhisattvas.

  37. The practice of all the bodhisattvas is to dedicate towards enlightenment
    All the virtue to be gained through making effort in these ways,
    With wisdom that is purified entirely of the three conceptual spheres,
    So as to dispel the sufferings of the infinity of beings.

Here I have set down for those who wish to follow the bodhisattva path,
Thirty-seven practices to be adopted by all the buddhas’ heirs,
Based on what is taught in the sūtras, tantras and treatises,
And following the instructions of the great masters of the past.

Since my intellect is only feeble and I have studied but a little,
This is not a composition likely to delight the connoisseurs,
Yet since I’ve relied upon the sūtras and what the saints have taught
I feel these are indeed the genuine trainings of the buddhas’ heirs.

Still, the tremendous waves of activity of the bodhisattvas
Are difficult for simple-minded folk like me to comprehend,
And I must therefore beg the indulgence of all the perfect saints
For any contradictions, irrelevancies or other flaws this may contain.

Through whatever merit has here been gained, may all beings
Generate sublime bodhicitta, both relative and absolute,
And through this, come to equal Lord Avalokiteśvara,
Transcending the extremes of existence and quiescence.

This was composed in Jewel Cave (Rinchen Puk) in Ngulchu by the monk Tokme, a teacher of scripture and reasoning, for his own and others’ benefit.

| Translated by Adam Pearcey, 2006.

Related Articles

bgf

Tantra

Two Truths, October 2014 – Bodh Gaya, India – Part 2 / 二諦 第二集 (宗薩欽哲仁波切)

Two Truths, October 2014 - Bodh Gaya, India - Part 2 / 二諦 第二集 (宗薩欽哲仁波切) by Dzongsar Jamyang Khyentse...

Most Popular

Bāhiya sutta – Ud 1.10

Udāna 1.10 Bāhiyasuttaṁ 10 Bāhiya Demikianlah yang kudengar: pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Sāvatthī,...

What makes you not a Buddhist, Jerusalem, June 12, 2018

What makes you not a Buddhist, Jerusalem, June 12, 2018 by Dzongsar Jamyang Khyentse...

Four Hundred Stanzas on the Yogic Deeds of Bodhisattvas (catuhsataka sastra karika nama) Aryadeva – 3

Four Hundred Stanzas on the Yogic Deeds of Bodhisattvas (catuhsataka sastra karika nama) Aryadeva - 3 L1: [Part II – Explaining the stages of the...

Aggañña Sutta – DN 27

Dīgha Nikāya Aggañña Sutta 27. Tentang Pengetahuan tentang Asal-usul Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā...

Supreme Healing Nectar Garland by Tsong Khapa

Supreme Healing Nectar Garland by Tsong Khapa . ******************************************************* . Reverence to Vajrapani, Lord of the...

Acinteyya Sutta – AN 4.77

ṅguttara Nikāya 4.77. Hal-hal yang Tidak Terpikirkan “Para bhikkhu, ada empat hal yang tidak terpikirkan ini yang seharusnya...

The Essence of Eloquent Speech, or Praise to the Buddha for Teaching Profound Dependent-Arising

The Essence of Eloquent Speech, or Praise to the Buddha for Teaching Profound Dependent-Arising or Praise of Buddha Shakyamuni for his Teaching...
bgf