Mahāsudassana Sutta – DN 17

Array
  • Dīgha Nikāya
  • Mahāvagga
  • Mahāsudassana Sutta

17. Kemegahan Agung

Pelepasan keduniawian seorang raja

Demikianlah Yang Kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kusinārā di hutan-sālmilik orang-orangMalla menjelang Nibbāna akhirNya di bawah pohon-sālkembar.

Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Bhagavā tidak wafat di kota kecil yang menyedihkan dan dengan ranting pohon berserakan ini, di tengah hutan, di tempat yang jauh dari mana-mana! Bhagavā, ada kota-kota besar lainnya seperti Campā, Rājagaha, Sāvatthi, Sāketa, Kosambi atau Vārāṇasī. Di tempat-tempat itu, ada para Khattiya, Brahmana dan perumah tangga kaya yang penuh pengabdian kepada Sang Tathāgata dan mereka akan melakukan pemakaman yang layak untuk Sang Tathāgata.’

‘Ānanda, jangan menyebut tempat ini kota kecil yang menyedihkan dan dengan ranting pohon berserakan ini, di tengah hutan, di tempat yang jauh dari mana-mana! Suatu ketika, Ānanda, Raja Mahāsudassana adalah seorang raja pemutar-roda, raja yang adil dan jujur, yang telah menaklukkan wilayah di empat penjuru dan memastikan keamanan wilayahnya. Dan Raja Mahāsudassana ini membangun Kusinārā ini, dengan nama Kusāvatī, sebagai ibukota kerajaannya. Dan luasnya dua belas yojana dari timur ke barat, dan tujuh yojana dari utara ke selatan. Kusāvatī adalah negeri yang kaya, makmur dan berpenduduk banyak, ramai oleh penduduk dan memiliki banyak persediaan makanan. Bagaikan kota dewa Āḷakamandā yang kaya … (seperti Sutta 16, paragraf 5.18), demikian pula kota kerajaan Kusāvatī. Dan kota Kusāvatī tidak pernah sepi dari sepuluh suara siang dan malam: suara gajah, kuda, kereta, genderang-bernada, genderang-samping, kecapi, nyanyian, simbal dan gong, dan teriakan, “Makan, minum dan bergembiralah” sebagai yang kesepuluh.

Ibu kota Kusāvatī dikelilingi oleh tujuh tembok. Satu dari emas, satu perak, satu beryl, satu kristal, satu dari batu delima, satu dari jamrud, dan satu dari berbagai jenis permata.

Dan gerbang-gerbang Kusāvatī berwarna empat: satu emas, satu perak, satu beryl, satu Kristal. Dan di depan tiap-tiap gerbang terdapat tujuh pilar, setinggi tiga atau empat manusia. Satu dari emas, satu perak, satu beryl, satu kristal, satu dari ruby, satu dari jamrud, dan satu dari berbagai jenis permata.

‘Kusāvatī dikelilingi oleh tujuh baris pohon palem, dari bahan yang sama. Pohon emas, berbatang emas dengan daun dan buah perak, pohon perak berbatang perak, dengan daun dan buah emas, pohon beryl berbatang beryl, dengan daun dan buah kristal, pohon kristal berbatang kristal, dengan daun dan buah beryl. Pohon ruby berbatang ruby, dengan daun dan buah jamrud, pohon jamrud berbatang jamrud, dengan daun dan buah ruby, sedangkan pohon dari berbagai jenis permata adalah sama sehubungan dengan batang, daun dan buah. Suara dedaunan yang ditiup angin menimbulkan bunyi yang merdu, menyenangkan, indah dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. Dan Ānanda, mereka yang menyukai hura-hura dan para pemabuk di Kusāvatī terpuaskan keinginannya oleh suara dari dedaunan yang tertiup angin.

‘Raja Mahāsudassana memiliki tujuh pusaka dan empat ciri. Apakah tujuh itu? Suatu ketika, pada hari Uposatha tanggal lima belas, ketika Raja telah membasuh kepalanya dan naik ke teras atas istananya untuk menjalankan hari Uposatha, Pusaka-Roda surgawi muncul di hadapannya, berjari-jari seribu, lengkap dengan lingkaran, sumbu dan segala hiasannya. Melihatnya, Raja Mahāsudassana berpikir: “Aku telah mendengar bahwa seorang Raja Khattiya yang sah ketika melihat roda seperti ini pada hari Uposatha tanggal lima belas, maka ia akan menjadi seorang Raja Pemutar-Roda. Semoga aku menjadi raja demikian!”

‘Kemudian, bangkit dari duduknya, menutupi satu bahunya dengan jubahnya, Raja mengambil kendi emas dengan tangan kirinya, memercikkan air ke roda itu dengan tangan kanannya, dan berkata: “Semoga Pusaka-Roda mulia berputar, semoga Pusaka-Roda mulia menaklukkan!” Roda itu bergerak ke timur, dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya. Dan di negeri manapun Roda itu berhenti, Raja menetap di sana bersama empat barisan bala tentaranya.

‘Dan raja-raja di wilayah timur datang menghadapnya dan berkata: “Selamat datang, Baginda, selamat datang! Kami adalah milikmu, Baginda, perintahlah kami, Baginda!” Dan Sang Raja berkata: “Jangan membunuh. Jangan mengambil apa yang tidak diberikan. Jangan melakukan hubungan seksual yang salah. Jangan berbohong. Jangan meminum minuman keras. Makanlah secukupnya.” Dan mereka yang menemuinya di wilayah timur menjadi taklukannya.

Dan ketika Roda itu menyelam ke laut timur, keluar dari air dan berbelok ke selatan, dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya Dan raja-raja … menjadi taklukannya. Setelah menyelam ke dalam laut selatan, Roda itu berbelok ke barat …, setelah menyelam ke dalam laut barat, Roda itu berbelok ke utara dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya … dan raja-raja yang menghadapnya di wilayah utara menjadi taklukannya.

‘Kemudian Pusaka-Roda, setelah menaklukkan wilayah-wilayah dari laut ke laut, kembali ke ibukota Kusāvatī dan berhenti di depan istana raja ketika Raja sedang memimpin persidangan, seolah-olah menghias istana kerajaan. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Roda muncul di depan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Gajah muncul di hadapan Raja Mahāsudassana, putih bersih, memiliki tujuh kekuatan, dengan kekuatan menakjubkan dalam hal melakukan perjalanan melalui angkasa, seekor gajah kerajaan yang diberi nama Uposatha. Melihatnya, Raja berpikir: “Sekor gajah tunggangan yang indah, seandainya aku dapat menjinakkannya!” Dan Pusaka-Gajah ini menyerah untuk dikendalikan bagaikan seekor gajah berdarah murni yang telah lama dilatih. Dan suatu ketika Sang Raja, mencobanya, menunggang gajah itu pada dini hari dan mengendarainya dari laut ke laut, kembali ke Kusāvatī tepat pada waktu makan pagi. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Gajah muncul di hadapan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Kuda muncul di hadapan Raja Mahāsudassana, berkepala gagak, bersurai hitam, dengan kekuatan menakjubkan dalam hal melakukan perjalanan melalui angkasa, seekor kuda kerajaan yang diberi nama Valāhaka. Dan Raja berpikir: “Seekor tunggangan yang menakjubkan, seandainya aku dapat menjinakkannya!” Dan Pusaka-Kuda ini menyerah untuk dikendalikan bagaikan seekor kuda berdarah murni yang telah lama dilatih … Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Kuda muncul di hadapan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Permata muncul di hadapan Raja Mahāsudassana. Permata itu adalah beryl, murni, indah, dipotong dengan sempurna dalam delapan sisi, jernih, cemerlang, sempurna dalam segala aspek, kilauan dari permata ini bersinar hingga radius satu yojana. Dan ketika Raja mencobanya, melakukan manuver malam pada malam yang gelap bersama empat barisan bala-tentaranya, dengan Pusaka-Permata terpasang di puncak panjinya. Dan semua orang yang tinggal di desa di sekitar sana mulai bekerja karena berpikir hari sudah siang. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Permata muncul di hadapan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Perempuan muncul di hadapan Raja Mahāsudassana, elok, rupawan, menarik, dengan kulit seperti bunga teratai, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, tidak terlalu gelap dan tidak terlalu cerah, kecantikannya melampaui kecantikan manusia, menyerupai kecantikan dewa. Dan sentuhan kulit Permata-Perempuan itu bagaikan sentuhan kapas atau sutra, dan anggota badannya sejuk di saat panas dan hangat di saat dingin. Aroma tubuhnya berbau cendana dan mulutnya berbau bunga teratai. Permata-Perempuan ini bangun sebelum Raja bangun dan tidur setelah Raja tidur, dan selalu bersedia melakukan apa pun demi kesenangan Raja, dan gaya bahasanya memikat. Dan Permata-Perempuan ini selalu setia kepada Raja bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Perempuan muncul di hadapan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Perumah tangga muncul di hadapan Raja Mahāsudassana. Dengan mata-dewanya, sebagai akibat dari kamma, yang ia miliki, ia mampu melihat harta tersembunyi, yang ada pemiliknya ataupun yang tidak ada pemiliknya. Ia mendatangi Raja dan berkata: “Jangan khawatir, Baginda, aku akan menjaga harta kekayaanmu.” Dan suatu ketika, Sang Raja, mengujinya, menaikkannya ke perahu dan membawanya ke tengah arus sungai Gangga. Kemudian ia berkata kepada si Permata-Perumah tangga: “Perumah tangga, aku menginginkan kepingan uang emas!” “Baiklah, Baginda, menepilah.” “Aku menginginkan keping uang emas di sini!” Kemudian si perumah tangga menyentuh air dengan kedua tangannya dan menarik keluar sebuah kendi yang penuh dengan keping-kepingan uang emas, dan berkata: “Apakah ini cukup, Baginda?’” dan Raja berkata: “Itu cukup, perumah tangga, engkau telah melayaniku dengan baik.” Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Perumah tangga muncul di hadapan Raja Mahāsudassana.

‘Kemudian Pusaka-Penasihat tangga muncul di depan Raja Mahāsudassana. Ia bijaksana, berpengalaman, cerdas dan kompeten dalam menasihati Raja mengenai bagaimana melakukan apa yang harus dilakukan, dan untuk membatalkan apa yang harus dibatalkan, dan untuk mengabaikan apa yang harus diabaikan. Ia mendatangi Raja dan berkata: “Jangan khawatir, Baginda, aku akan menasihati engkau.’ Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Penasihat muncul di hadapan Raja Mahāsudassana, dan bagaimana ia dilengkapi dengan tujuh pusaka ini.

‘Dan lagi, Ānanda, Raja Mahāsudassana memiliki empat ciri. Apakah itu? Pertama, Raja tampan, indah dipandang, menyenangkan, dengan kulit menyerupai teratai terbaik, melampaui semua orang lain.

‘Ke dua, ia berumur panjang, melampaui semua orang lain.

‘Ke tiga, ia bebas dari penyakit, memiliki pencernaan yang sehat, lebih jarang mengalami kedinginan dan kepanasan dibandingkan orang-orang lain.

‘Ke empat, ia disayang oleh para Brahmana dan perumah tangga. Bagaikan seorang ayah yang disayangi oleh anak-anaknya, demikian pula ia dengan para Brahmana dan perumah tangga. Dan mereka disayangi oleh Raja bagaikan anak-anak disayang oleh ayah mereka. Suatu ketika Raja pergi ke taman-rekreasi bersama empat barisan bala-tentaranya, dan para Brahmana dan perumah tangga mendatanginya dan berkata: “Berjalanlah pelan-pelan, Baginda, agar kami dapat melihatmu lebih lama!” Dan Raja berkata kepada kusirnya: “Berkendaralah pelan-pelan agar aku dapat melihat para Brahmana dan perumah tangga ini lebih lama.” Demikianlah Raja Mahāsudassana memiliki empat ciri ini.

‘Kemudian Raja Mahāsudassana berpikir: “Bagaimana jika aku membuat kolam-kolam teratai di antara pohon-pohon palem, satu sama lain berjarak seratus busur. ” Dan ia melakukan hal itu. Kolam-kolam teratai itu berlantai ubin empat warna, emas, perak, beryl dan kristal, masing-masing kolam dapat dicapai menggunakan empat tangga, satu emas, satu perak, satu beryl dan satu kristal. Dan tangga emas memiliki tiang dari emas dengan pegangan dan sandaran dari perak, tangga perak memiliki tiang dari perak dengan pegangan dan sandaran dari emas, dan seterusnya. Dan kolam-kolam teratai itu dilengkapi dengan dua jenis pagar, emas dan perak—pagar emas memiliki tiang emas, pegangan dan sandaran dari perak, dan pagar perak memiliki pegangan dan sandaran dari emas.

‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku menanam di masing-masing kolam berbagai jenis [bunga] yang cocok untuk membuat karangan bunga—bunga teratai biru, kuning, merah dan putih yang dapat tetap mekar di segala musim tanpa layu?” Dan ia melakukannya. Kemudian ia berpikir: “Bagaimana jika aku menempatkan para petugas mandi di tepi kolam ini untuk memandikan mereka yang datang ke sini?” Dan ia melakukannya. Kemudian ia berpikir “Bagaimana jika aku membuat meja persembahan di tepi kolam ini agar mereka yang ingin makan dapat memperolehnya, mereka yang ingin minum dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan pakaian dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan transportasi dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan tempat tidur dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan seorang istri dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan kepingan uang emas dapat memperolehnya?” Dan ia melakukan hal-hal itu.

‘Kemudian para Brahmana dan perumah tangga membawa banyak harta dn mendatangi Raja, berkata: “Baginda, ini adalah harta yang telah kami kumpulkan bersama khusus untuk Baginda, terimalah!” “Terima kasih, teman-teman, tetapi aku telah memiliki cukup kekayaan dari penghasilan yang sah. Biarlah ini menjadi milik kalian, dan selain itu ambillah lebih banyak lagi!” Karena ditolak oleh Raja, mereka menarik diri ke satu sisi dan berdiskusi: “Tidaklah benar jika kita membawa pulang harta ini. Bagaimana jika kita membangun tempat tinggal untuk Raja Mahāsudassana.” Maka mereka mendatangi Raja dan berkata: “Baginda, kami akan membangunkan tempat tinggal untuk mu”, dan Raja menerimanya dengan berdiam diri.

‘Kemudian, Sakka, Raja para dewa, mengetahui pikiran Raja Mahāsudassana dengan pikirannya, berkata kepada pelayannya Dewa Vissakamma: “Mari, sahabat Vissakamma, dan bangunlah sebuah tempat tinggal untuk Raja Mahāsudassana, sebuah istana yang bernama Dhamma” “Baik, Tuanku”, jawab Vissakamma dan, secepat seorang kuat merentangkan tangannya atau melipatnya lagi, ia seketika lenyap dari alam Dewa Tiga-Puluh-Tiga dan muncul kembali di hadapan Raja Mahāsudassana, dan berkata kepadanya: “Baginda, aku akan membangunkan sebuah tempat tinggal untukmu, sebuah istana yang bernama Dhamma.” Raja menerimanya dengan berdiam diri, dan Vissakamma membangunkan Istana Dhamma untuknya.

‘Istana Dhamma, Ānanda, panjangnya satu yojana dari timur ke barat, dan setengah yojana lebarnya dari utara ke selatan. Keseluruhan istana itu tingginya tiga kali tinggi manusia dengan lantai empat warna, emas, perak, beryl dan kristal, dan terdiri dari delapan puluh empat ribu tiang dengan empat warna yang sama. Memiliki dua puluh empat tangga dengan empat warna yang sama, dan tangga emas memiliki tiang dari emas dengan pegangan dan sandaran dari perak … (seperti paragraf 23). Istana ini juga memiliki delapan puluh empat ribu kamar dengan warna yang sama. Dalam kamar emas terdapat ranjang perak, dalam kamar perak terdapat ranjang emas, dalam kamar beryl terdapat ranjang gading, dan di dalam kamar kristal terdapat ranjang cendana. Di pintu kamar emas terukir gambar pohon palem perak, dengan tangkai perak, daun dan buah emas … Di pintu kamar perak, terukir gambar pohon palem emas, dengan batang, daun dan buah emas, di pintu kamar beryl terukir gambar pohon palem kristal, dengan batang kristal, dan daun dan buah beryl, di pintu kamar kristal terukir gambar pohon palem beryl, dengan daun dan buah kristal.

‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku membuat hutan pohon palem yang seluruhnya terbuat dari emas di depan pintu kamar besar segitiga di mana aku duduk di siang hari?” dan ia melakukannya.

‘Di sekeliling istana Dhamma terdapat dua pagar, satu terbuat dari emas, satu dari perak. Pagar emas memiliki tiang-tiang dari emas, pegangan dan sandaran dari perak, dan pagar perak memiliki tiang-tiang dari perak, pegangan dan sandaran dari emas.

Istana Dhamma dikelilingi oleh dua jaring lonceng. Satu jaring terbuat dari emas dengan lonceng perak, dan yang lainnya terbuat dari perak dengan lonceng emas. Dan ketika jaring-jaring lonceng ini tertiup angin, suaranya merdu, menyenangkan, indah dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. Dan mereka yang menyukai hura-hura dan para pemabuk di Kusāvatī terpuaskan keinginannya oleh suara dari jaring-jaring lonceng yang tertiup angin itu.

‘Dan ketika Istana Dhamma telah selesai, istana itu sulit dilihat, menyilaukan mata, bagaikan di akhir musim hujan, di musim gugur, ketika langit bersih dan tanpa awan, matahari yang menembus kabut adalah sulit dilihat, demikian pula Istana Dhamma setelah selesai dibangun.

‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku membuat danau-teratai yang diberi nama Dhamma di depan Istana Dhamma?” dan ia melakukannya. Danau ini satu yojana panjangnya dari timur ke barat, dan setengah yojana lebarnya dari utara ke selatan, dan berlantai empat jenis ubin, emas, perak, beryl dan kristal. Terdapat dua puluh empat tangga menuju danau ini terbuat dari bahan yang berbeda-beda: emas, perak, beryl dan kristal. Tangga emas memiliki tiang emas dengan pegangan dan sandaran perak, tangga perak dengan pegangan dan sandaran emas … (dan seterusnya seperti paragraf 22).

‘Danau Dhamma dikelilingi oleh tujuh jenis pohon palem. Suara dedaunan yang ditiup angin menimbulkan bunyi yang merdu, menyenangkan, indah dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. Dan Ānanda, mereka yang menyukai hura-hura dan para pemabuk di Kusāvatī terpuaskan keinginannya oleh suara dari dedaunan yang tertiup angin.

‘Ketika Istana Dhamma dan Danau Dhamma selesai, Raja Mahāsudassana, setelah memuaskan semua keinginan dari mereka yang pada saat itu adalah para petapa dan Brahmana, atau yang dihormati sebagai demikian, ia naik ke Istana Dhamma.’

Akhir dari bagian pembacaan pertama

‘Kemudian Raja Mahāsudassana berpikir: “Dari kamma apakah ini berbuah, dari kamma apakah ini berakibat, sehingga aku sekarang begitu kuat dan berkuasa?” Kemudian ia berpikir: “Ini adalah buah, akibat dari tiga jenis kamma: memberi, pengendalian-diri, dan penghindaran.”

‘Kemudian Raja pergi ke kamar besar segitiga dan, berdiri di pintu, berseru: “Semoga pikiran nafsu lenyap! semoga pikiran kebencian lenyap! Semoga pikiran kekejaman lenyap! Sedemikian jauh dan tidak ada lagi pikiran nafsu, kebencian, kekejaman!”

‘Kemudian Raja masuk ke kamar besar segitiga, duduk bersila di atas bantal emas dan, dengan terlepas dari segala kenikmatan-indria, terlepas dari kondisi pikiran yang tidak bermanfaat, masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan pemikiran dan pertimbangan, yang muncul dari keterlepasan, dipenuhi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Dan dengan meredanya pemikiran dan pertimbangan, dengan mencapai ketenangan dan keterpusatan-pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna kedua, yang tanpa pemikiran dan pertimbangan, yang muncul dari konsentrasi, dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Dan dengan meluruhnya kegembiraan, dengan tetap tidak terganggu, dengan penuh perhatian dan berkesadaran jernih, ia mengalami dalam dirinya apa yang oleh Para Mulia dikatakan: “Berbahagialah ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian”, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ketiga. Dan, setelah melepaskan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, ia masuk dan berdiam dalam jhāna keempat yang melampaui kenikmatan dan kesakitan, dan dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian.

‘Kemudian Raja, keluar dari kamar besar segitiga, pergi ke kamar emas segitiga dan, duduk bersila di atas bantal perak, berdiam dengan memancarkan cinta kasih ke satu arah kemudian ke arah ke dua, ke tiga dan ke empat. Demikianlah ia berdiam, memancarkan pikiran cinta-kasih ke atas, ke bawah dan ke sekeliling, ke segala penjuru, selalu dengan pikiran yang penuh dengan cinta-kasih, berlimpah, meluas, tanpa batas, tanpa kebencian atau permusuhan. Dan ia melakukan hal yang sama untuk pikiran belas-kasihan, kegembiraan simpatik dan keseimbangan.

‘Dari delapan puluh empat ribu kota yang dikuasai oleh Raja Mahāsudassana, ibukota Kusāvatī adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu istana, Istana Dhamma adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu aula segitiga, kamar besar segitiga adalah yang utama; delapan puluh empat ribu dipannya terbuat dari emas, perak, gading, cendana, ditutupi oleh selimut bulu domba, wol, berselimutkan bulu dari kulit rusa-kadali, dengan penutup kepala, dengan bantal merah di kedua ujungnya; dari delapan puluh empat ribu ekor gajahnya yang dihias dengan perhiasan emas, spanduk emas dan ditutupi dengan jaring emas, Gajah Uposatha adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu keretanya yang ditutup dengan kulit singa, kulit-macan, kulit-macan tutul atau kain berwarna jingga, dihias dengan perhiasan emas, spanduk emas dan selimut dengan jaring emas, Kereta Vejayanta adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu permatanya, Pusaka-Permata adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu istrinya, Ratu Subhaddā adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu perumah tangga, Pusaka-Perumah tangga adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu pelayan Khattiya, Pusaka-Penasihat adalah yang utama; delapan puluh empat ribu sapinya tertambat dengan tali rami dan ember susu (?) terbuat dari perak; delapan puluh empat ribu gulung kain terbuat dari rami, kapas dan wol terbaik; delapan puluh empat ribu persembahan nasi tersedia untuk diambil oleh mereka yang membutuhkan, siang dan malam.

‘Dan pada saat itu, Ddapan puluh empat ribu gajah milik Raja Mahāsudassana melayaninya siang dan malam. Dan ia berpikir: “Delapan puluh empat ribu ekor gajah ini melayaniku siang dan malam. Bagaimana jika, setiap akhir abad empat puluh dua ribu gajah melayaniku bergantian?” Dan ia memberikan instruksi kepada Pusaka-Penasihatnya, dan demikianlah hal itu dilakukan.

‘Dan, Ānanda, setelah beberapa ratus, beberapa ribu tahun berlalu, Ratu Subhaddā berpikir: “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu Raja Mahāsudassana. Bagaimana jika aku pegi menemuinya?” Maka ia berkata kepada para perempuan: “Marilah, basuh kepala kalian dan kenakan pakaian bersih. Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu Raja Mahāsudassana. Kita akan pergi menemuinya.” “Baik, Yang Mulia”, mereka menjawab, dan mempersiapkan diri sesuai apa yang diperintahkan, kemudian kembali menghadap Ratu. Dan Ratu Subhaddā berkata kepada Pusaka-Penasihat: “Sahabat Penasihat, siapkan empat barisan bala tentara. Sudah lama sejak terakhir kali kami menemui Raja Mahāsudassana. Kami akan pergi menemuinya.” “Baik, Yang Mulia”, jawab Pusaka-Penasihat dan, setelah mempersiapkan empat barisan bala tentara, ia melapor kepada Ratu: “Sekarang adalah saatnya untuk melakukan apa yang engkau inginkan.”

‘Kemudian Ratu Subhaddā pergi bersama dengan empat barisan bala tentara dan para perempuan menuju Istana Dhamma dan, masuk menuju kamar besar segitiga dan berdiri bersandar pada tiang pintu. Dan Raja Mahāsudassana, berpikir: “Ada apakah keributan ini, seperti kerumunan besar orang?” keluar ke pintu dan melihat Ratu Subhaddā bersandar pada tiang pintu. Dan ia berkata: “Tetap di sana, Ratu! Jangan masuk!”

‘Kemudian Raja Mahāsudassana berkata kepada pelayannya: “Ke sini, teman, pergilah ke kamar besar segitiga, ambilkan kasur emas dan hamparkan di antara pohon-pohon palem emas.” “Baik, Baginda”, jawab sang pelayan, dan melakukan sesuai perintah. Kemudian Raja Mahāsudassana berbaring ke arah kanan menyerupai posisi singa dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan berkesadaran jernih.

‘Kemudian Ratu Subhaddā berpikir: “Indria-indria Raja Mahāsudassana murni, kulitnya bersih dan cemerlang, oh—aku harap ia tidak mati!” Maka ia berkata kepada Raja: “Baginda, dari delapan puluh empat ribu kota milikmu, Kusāvatī adalah yang utama. Bertekadlah, munculkan keinginan untuk hidup menetap di sana!” Demikianlah, mengingatkannya akan segala harta kerajaan (seperti paragraf 5) ia menasihatinya agar memunculkan keinginan untuk terus hidup.

‘Mendengar kata-kata ini, Raja Mahāsudassana berkata kepada Sang Ratu: “Sejak lama, Ratu, engkau selalu mengucapkan kata-kata indah, menyenangkan, menarik kepadaku, tetapi sekarang pada saat-saat terakhir ini kata-katamu tidak indah, tidak menyenangkan dan tidak menarik bagiku.” “Baginda, bagaimanakah seharusnya aku berbicara kepadamu?”

‘Beginilah seharusnya engkau berbicara: “Segala sesuatu yang menyenangkan dan menarik pasti mengalami perubahan, lenyap, menjadi kebalikannya. Jangan, Baginda, meninggal dunia dengan penuh keinginan. Meninggal dengan penuh keinginan adalah menyakitkan dan tercela. Dari delapan puluh empat ribu kota milikmu, Kusāvatī adalah yang utama: lepaskanlah nafsu, lepaskanlah keinginan untuk hidup di dalamnya … Dari delapan puluh empat ribu istana milikmu, Dhamma adalah yang utama: lepaskanlah nafsu, lepaskanlah keinginan untuk hidup di dalamnya … “ (dan seterusnya hingga akhir, seperti paragraf 5).

‘Mendengar kata-kata ini, Ratu Subhaddā menangis dan mengucurkan air mata. Kemudian, setelah menghapus air matanya, ia berkata: “Baginda, Segala sesuatu yang menyenangkan dan menarik pasti mengalami perubahan … Jangan, Baginda, meninggal dunia dengan penuh keinginan …’

‘Segera setelahnya, Raja Mahāsudassana meninggal dunia; dan bagaikan seorang perumah tangga atau putranya akan merasa mengantuk setelah memakan makanan lezat, demikianlah ia merasakan sensasi kematian, dan ia terlahir kembali di alam bahagia di alam Brahmā.

‘Raja Mahāsudassana menikmati masa kanak-kanak selama delapan puluh empat ribu tahun, selama delapan puluh empat ribu tahun ia menjadi raja muda, selama delapan puluh empat ribu tahun ia berkuasa sebagai Raja, dan selama delapan puluh empat ribu tahun, sebagai seorang umat-awam, ia menjalani kehidupan suci di dalam Istana Dhamma. Dan, setelah melatih empat kediaman luhur, saat hancurnya jasmani ia terlahir kembali di alam Brahmā.

‘Sekarang, Ānanda, engkau mungkin berpikir bahwa Raja Mahāsudassana pada saat itu adalah orang lain. Tetapi jangan engkau beranggapan demikian, karena Aku adalah Raja Mahāsudassana pada saat itu. Delapan puluh empat ribu kota dengan Kusāvatī sebagai yang utama adalah milikku, … delapan puluh empat ribu persembahan nasi … adalah milikku.

‘Dan dari delapan puluh ribu kota Aku hanya menetap di satu kota yaitu Kusāvatī; … dari delapan puluh empat ribu istri yang Kumiliki, hanya satu yang memperhatikanKu, dan dia bernama Khattiyāni atau Velāmikāni; dari delapan puluh empat ribu gulung kain, Aku hanya memiliki satu …; dari delapan puluh empat ribu persembahan-nasi di sana hanya satu takaran pilihan kari yang kumakan.

‘Lihatlah, Ānanda, bagaimana segalanya yang terkondisi di masa lampau itu lenyap dan berubah! Demikianlah, Ānanda, hal-hal yang terkondisi adalah tidak kekal, tidak stabil, tidak membawa kebahagiaan, dan karena itu, Ānanda, kita tidak boleh bergembira dalam hal-hal yang terkondisi, kita harus berhenti tertarik dalam hal-hal tersebut, dan terbebas dari hal-hal tersebut.

‘Enam kali, Ānanda, Aku ingat telah meninggalkan jasmani ini di tempat ini, dan yang ketujuh kali Aku meninggalkan jasmani ini sebagai Raja Pemutar-Roda, raja yang adil yang telah menaklukkan empat penjuru dan menegakkan peraturan yang kokoh, dan yang memiliki tujuh pusaka. Tetapi, Ānanda, Aku tidak melihat tempat manapun di dunia ini dengan para dewa dan māra dan Brahmā, atau dalam generasi ini bersama para pertapa dan Brahmana, raja-raja dan umat manusia, di mana Sang Tathāgata akan meninggalkan jasmani ini untuk kedelapan kalinya.’

Demikianlah Sang Bhagavā berbicara, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan setelah mengatakan hal ini, Sang Guru mengatakan:

‘Semua yang tersusun adalah tidak kekal, cenderung muncul dan lenyap,
Setelah muncul, akan hancur, meninggalkannya adalah kebahagiaan sejati.’

  • Long Discourses 17

King Mahāsudassana

So I have heard. At one time the Buddha was staying between a pair of sal trees in the sal forest of the Mallas at Upavattana near Kusinārā at the time of his final extinguishment.

Then Venerable Ānanda went up to the Buddha, bowed, sat down to one side, and said to him, “Sir, please don’t become fully extinguished in this little hamlet, this jungle hamlet, this branch hamlet. There are other great cities such as Campā, Rājagaha, Sāvatthī, Sāketa, Kosambī, and Benares. Let the Buddha become fully extinguished there. There are many well-to-do aristocrats, brahmins, and householders there who are devoted to the Buddha. They will perform the rites of venerating the Realized One’s corpse.”

“Don’t say that, Ānanda! Don’t say that this is a little hamlet, a jungle hamlet, a branch hamlet.

1. The Capital City of Kusāvatī

Once upon a time there was a king named Mahāsudassana whose dominion extended to all four sides, and who achieved stability in the country. His capital was this Kusinārā, which at the time was named Kusāvatī. It stretched for twelve leagues from east to west, and seven leagues from north to south. The royal capital of Kusāvatī was successful, prosperous, populous, full of people, with plenty of food. It was just like Āḷakamandā, the royal capital of the gods, which is successful, prosperous, populous, full of spirits, with plenty of food.

Kusāvatī was never free of ten sounds by day or night, namely: the sound of elephants, horses, chariots, drums, clay drums, arched harps, singing, horns, gongs, and handbells; and the cry, ‘Eat, drink, be merry!’ as the tenth.

Kusāvatī was encircled by seven ramparts: one made of gold, one made of silver, one made of beryl, one made of crystal, one made of ruby, one made of emerald, and one made of all precious things.

It had four gates, made of gold, silver, beryl, and crystal. At each gate there were seven pillars, three fathoms deep and four fathoms high, made of gold, silver, beryl, crystal, ruby, emerald, and all precious things.

It was surrounded by seven rows of palm trees, made of gold, silver, beryl, crystal, ruby, emerald, and all precious things. The golden palms had trunks of gold, and leaves and fruits of silver. The silver palms had trunks of silver, and leaves and fruits of gold. The beryl palms had trunks of beryl, and leaves and fruits of crystal. The crystal palms had trunks of crystal, and leaves and fruits of beryl. The ruby palms had trunks of ruby, and leaves and fruits of emerald. The emerald palms had trunks of emerald, and leaves and fruits of ruby. The palms of all precious things had trunks of all precious things, and leaves and fruits of all precious things. When those rows of palm trees were blown by the wind they sounded graceful, tantalizing, sensuous, lovely, and intoxicating, like a quintet made up of skilled musicians who had practiced well and kept excellent rhythm. And any addicts, carousers, or drunkards in Kusāvatī at that time were entertained by that sound.

2. The Seven Treasures

2.1. The Wheel-Treasure

King Mahāsudassana possessed seven treasures and four blessings. What seven?

On a fifteenth day sabbath, King Mahāsudassana had bathed his head and gone upstairs in the royal longhouse to observe the sabbath. And the heavenly wheel-treasure appeared to him, with a thousand spokes, with rim and hub, complete in every detail. Seeing this, the king thought, ‘I have heard that when the heavenly wheel-treasure appears to a king in this way, he becomes a wheel-turning monarch. Am I then a wheel-turning monarch?’

Then King Mahāsudassana, rising from his seat and arranging his robe over one shoulder, took a ceremonial vase in his left hand and besprinkled the wheel-treasure with his right hand, saying: ‘Roll forth, O wheel-treasure! Triumph, O wheel-treasure!’

Then the wheel-treasure rolled towards the east. And the king followed it together with his army of four divisions. In whatever place the wheel-treasure stood still, there the king came to stay together with his army.

And any opposing rulers of the eastern quarter came to him and said, ‘Come, great king! Welcome, great king! We are yours, great king, instruct us.’

The king said, ‘Do not kill living creatures. Do not steal. Do not commit sexual misconduct. Do not lie. Do not drink alcohol. Maintain the current level of taxation.’ And so the opposing rulers of the eastern quarter became his vassals.

Then the wheel-treasure, having plunged into the eastern ocean and emerged again, rolled towards the south. …

Having plunged into the southern ocean and emerged again, it rolled towards the west. …

Having plunged into the western ocean and emerged again, it rolled towards the north, followed by the king together with his army of four divisions. In whatever place the wheel-treasure stood still, there the king came to stay together with his army.

And any opposing rulers of the northern quarter came to him and said, ‘Come, great king! Welcome, great king! We are yours, great king, instruct us.’

The king said, ‘Do not kill living creatures. Do not steal. Do not commit sexual misconduct. Do not lie. Do not drink alcohol. Maintain the current level of taxation.’ And so the opposing rulers of the northern quarter became his vassals.

And then the wheel-treasure, having triumphed over this land surrounded by ocean, returned to the royal capital of Kusāvatī. There it stood still by the gate to Mahāsudassana’s royal compound at the High Court as if fixed to an axle, illuminating the royal compound. Such is the wheel-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.2. The Elephant-Treasure

Next, the elephant-treasure appeared to King Mahāsudassana. It was an all-white sky-walker with psychic power, touching the ground in seven places, a king of elephants named Sabbath. Seeing him, the king was impressed, ‘This would truly be a fine elephant vehicle, if he would submit to taming.’ Then the elephant-treasure submitted to taming, as if he was a fine thoroughbred elephant that had been tamed for a long time.

Once it so happened that King Mahāsudassana, testing that same elephant-treasure, mounted him in the morning and traversed the land surrounded by ocean before returning to the royal capital in time for breakfast. Such is the elephant-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.3. The Horse-Treasure

Next, the horse-treasure appeared to King Mahāsudassana. It was an all-white sky-walker with psychic power, with head of black and mane like woven reeds, a royal steed named Thundercloud. Seeing him, the king was impressed, ‘This would truly be a fine horse vehicle, if he would submit to taming.’ Then the horse-treasure submitted to taming, as if he was a fine thoroughbred horse that had been tamed for a long time.

Once it so happened that King Mahāsudassana, testing that same horse-treasure, mounted him in the morning and traversed the land surrounded by ocean before returning to the royal capital in time for breakfast. Such is the horse-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.4. The Jewel-Treasure

Next, the jewel-treasure appeared to King Mahāsudassana. It was a beryl gem that was naturally beautiful, eight-faceted, well-worked, transparent, clear, and unclouded, endowed with all good qualities. And the radiance of that jewel spread all-round for a league.

Once it so happened that King Mahāsudassana, testing that same jewel-treasure, mobilized his army of four divisions and, with the jewel hoisted on his banner, set out in the dark of the night. Then the villagers around them set off to work, thinking that it was day. Such is the jewel-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.5. The Woman-Treasure

Next, the woman-treasure appeared to King Mahāsudassana. She was attractive, good-looking, lovely, of surpassing beauty. She was neither too tall nor too short; neither too thin nor too fat; neither too dark nor too light. She outdid human beauty without reaching divine beauty. And her touch was like a tuft of cotton-wool or kapok. When it was cool her limbs were warm, and when it was warm her limbs were cool. The fragrance of sandal floated from her body, and lotus from her mouth. She got up before the king and went to bed after him, and was obliging, behaving nicely and speaking politely. The woman-treasure did not betray the wheel-turning monarch even in thought, still less in deed. Such is the woman-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.6. The Householder-Treasure

Next, the householder-treasure appeared to King Mahāsudassana. The power of clairvoyance manifested in him as a result of past deeds, by which he sees hidden treasure, both owned and ownerless.

He approached the king and said, ‘Relax, sire. I will take care of the treasury.’

Once it so happened that the wheel-turning monarch, testing that same householder-treasure, boarded a boat and sailed to the middle of the Ganges river. Then he said to the householder-treasure, ‘Householder, I need gold coins and bullion.’

‘Well then, great king, draw the boat up to one shore.’

‘It’s right here, householder, that I need gold coins and bullion.’

Then that householder-treasure, immersing both hands in the water, pulled up a pot full of gold coin and bullion, and said to the king, ‘Is this sufficient, great king? Has enough been done, great king, enough offered?’

The king said, ‘That is sufficient, householder. Enough has been done, enough offered.’

Such is the householder-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

2.7. The Counselor-Treasure

Next, the counselor-treasure appeared to King Mahāsudassana. He was astute, competent, intelligent, and capable of getting the king to appoint who should be appointed, dismiss who should be dismissed, and retain who should be retained.

He approached the king and said, ‘Relax, sire. I shall issue instructions.’

Such is the counselor-treasure that appeared to King Mahāsudassana.

These are the seven treasures possessed by King Mahāsudassana.

3. The Four Blessings

King Mahāsudassana possessed four blessings. And what are the four blessings?

He was attractive, good-looking, lovely, of surpassing beauty, more so than other people. This is the first blessing.

Furthermore, he was long-lived, more so than other people. This is the second blessing.

Furthermore, he was rarely ill or unwell, and his stomach digested well, being neither too hot nor too cold, more so than other people. This is the third blessing.

Furthermore, he was as dear and beloved to the brahmins and householders as a father is to his children. And the brahmins and householders were as dear to the king as children are to their father.

Once it so happened that King Mahāsudassana went with his army of four divisions to visit a park. Then the brahmins and householders went up to him and said, ‘Slow down, Your Majesty, so we may see you longer!’ And the king addressed his charioteer, ‘Drive slowly, charioteer, so I can see the brahmins and householders longer!’ This is the fourth blessing.

These are the four blessings possessed by King Mahāsudassana.

4. Lotus Ponds in the Palace of Principle

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I have lotus ponds built between the palms, at intervals of a hundred bow lengths?’

So that’s what he did. The lotus ponds were lined with tiles of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal.

And four flights of stairs of four colors descended into each lotus pond, made of gold, silver, beryl, and crystal. The golden stairs had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver stairs had posts of silver, and banisters and finials of gold. The beryl stairs had posts of beryl, and banisters and finials of crystal. The crystal stairs had posts of crystal, and banisters and finials of beryl. Those lotus ponds were surrounded by two balustrades, made of gold and silver. The golden balustrades had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver balustrades had posts of silver, and banisters and finials of gold.

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I plant flowers in the lotus ponds such as blue water lilies, and lotuses of pink, yellow, and white, blooming all year round, and accessible to the public?’ So that’s what he did.

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I appoint bath attendants to help bathe the people who come to bathe in the lotus ponds?’ So that’s what he did.

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I set up charities on the banks of the lotus ponds, so that those in need of food, drink, clothes, vehicles, beds, women, gold, or silver can get what they need?’ So that’s what he did.

Then the brahmins and householders came to the king bringing abundant wealth and said, ‘Sire, this abundant wealth is specially for you alone; may Your Highness accept it!’

‘There’s enough raised for me through regular taxes. Let this be for you; and here, take even more!’

When the king turned them down, they withdrew to one side to think up a plan, ‘It wouldn’t be proper for us to take this abundant wealth back to our own homes. Why don’t we build a home for King Mahāsudassana?’

They went up to the king and said, ‘We shall have a home built for you, sire!’ King Mahāsudassana consented in silence.

And then Sakka, lord of gods, knowing what the king was thinking, addressed the god Vissakamma, ‘Come, dear Vissakamma, build a palace named Principle as a home for King Mahāsudassana.’

‘Yes, lord,’ replied Vissakamma. Then, as easily as a strong person would extend or contract their arm, he vanished from the gods of the Thirty-Three and appeared in front of King Mahāsudassana.

Vissakamma said to the king, ‘I shall build a palace named Principle as a home for you, sire.’ King Mahāsudassana consented in silence.

And so that’s what Vissakamma did.

The Palace of Principle stretched for a league from east to west, and half a league from north to south. It was lined with tiles of four colors, three fathoms high, made of gold, silver, beryl, and crystal.

It had 84,000 pillars of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal. It was covered with panels of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal.

It had twenty-four staircases of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal. The golden stairs had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver stairs had posts of silver, and banisters and finials of gold. The beryl stairs had posts of beryl, and banisters and finials of crystal. The crystal stairs had posts of crystal, and banisters and finials of beryl.

It had 84,000 chambers of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal. In each chamber a couch was spread: in the golden chamber a couch of silver; in the silver chamber a couch of gold; in the beryl chamber a couch of ivory; in the crystal chamber a couch of hardwood. At the door of the golden chamber stood a palm tree of silver, with trunk of silver, and leaves and fruits of gold. At the door of the silver chamber stood a palm tree of gold, with trunk of gold, and leaves and fruits of silver. At the door of the beryl chamber stood a palm tree of crystal, with trunk of crystal, and leaves and fruits of beryl. At the door of the crystal chamber stood a palm tree of beryl, with trunk of beryl, and leaves and fruits of crystal.

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I build a grove of golden palm trees at the door to the great foyer, where I can sit for the day?’ So that’s what he did.

The Palace of Principle was surrounded by two balustrades, made of gold and silver. The golden balustrades had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver balustrades had posts of silver, and banisters and finials of gold.

The Palace of Principle was surrounded by two nets of bells, made of gold and silver. The golden net had bells of silver, and the silver net had bells of gold. When those nets of bells were blown by the wind they sounded graceful, tantalizing, sensuous, lovely, and intoxicating, like a quintet made up of skilled musicians who had practiced well and kept excellent rhythm. And any addicts, carousers, or drunkards in Kusāvatī at that time were entertained by that sound. When it was finished, the palace was hard to look at, dazzling to the eyes, like the sun rising in a clear and cloudless sky in the last month of the rainy season.

Then King Mahāsudassana thought, ‘Why don’t I build a lotus pond named Principle in front of the palace?’ So that’s what he did. The Lotus Pond of Principle stretched for a league from east to west, and half a league from north to south. It was lined with tiles of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal.

It had twenty-four staircases of four colors, made of gold, silver, beryl, and crystal. The golden stairs had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver stairs had posts of silver, and banisters and finials of gold. The beryl stairs had posts of beryl, and banisters and finials of crystal. The crystal stairs had posts of crystal, and banisters and finials of beryl.

It was surrounded by two balustrades, made of gold and silver. The golden balustrades had posts of gold, and banisters and finials of silver. The silver balustrades had posts of silver, and banisters and finials of gold.

It was surrounded by seven rows of palm trees, made of gold, silver, beryl, crystal, ruby, emerald, and all precious things. The golden palms had trunks of gold, and leaves and fruits of silver. The silver palms had trunks of silver, and leaves and fruits of gold. The beryl palms had trunks of beryl, and leaves and fruits of crystal. The crystal palms had trunks of crystal, and leaves and fruits of beryl. The ruby palms had trunks of ruby, and leaves and fruits of emerald. The emerald palms had trunks of emerald, and leaves and fruits of ruby. The palms of all precious things had trunks of all precious things, and leaves and fruits of all precious things. When those rows of palm trees were blown by the wind they sounded graceful, tantalizing, sensuous, lovely, and intoxicating, like a quintet made up of skilled musicians who had practiced well and kept excellent rhythm. And any addicts, carousers, or drunkards in Kusāvatī at that time were entertained by that sound.

When the palace and its lotus pond were finished, King Mahāsudassana served those who were reckoned as true ascetics and brahmins with all they desired. Then he ascended the Palace of Principle.

 

5. Attaining Absorption

Then King Mahāsudassana thought, ‘Of what deed of mine is this the fruit and result, that I am now so mighty and powerful?’

Then King Mahāsudassana thought, ‘It is the fruit and result of three kinds of deeds: giving, self-control, and restraint.’

Then he went to the great foyer, stood at the door, and expressed this heartfelt sentiment: ‘Stop here, sensual, malicious, and cruel thoughts—no further!’

Then he entered the great foyer and sat on the golden couch. Quite secluded from sensual pleasures, secluded from unskillful qualities, he entered and remained in the first absorption, which has the rapture and bliss born of seclusion, while placing the mind and keeping it connected. As the placing of the mind and keeping it connected were stilled, he entered and remained in the second absorption, which has the rapture and bliss born of immersion, with internal clarity and confidence, and unified mind, without placing the mind and keeping it connected. And with the fading away of rapture, he entered and remained in the third absorption, where he meditated with equanimity, mindful and aware, personally experiencing the bliss of which the noble ones declare, ‘Equanimous and mindful, one meditates in bliss.’ With the giving up of pleasure and pain, and the ending of former happiness and sadness, he entered and remained in the fourth absorption, without pleasure or pain, with pure equanimity and mindfulness.

Then King Mahāsudassana left the great foyer and entered the golden chamber, where he sat on the golden couch. He meditated spreading a heart full of love to one direction, and to the second, and to the third, and to the fourth. In the same way he spread a heart full of love above, below, across, everywhere, all around, to everyone in the world—abundant, expansive, limitless, free of enmity and ill will. He meditated spreading a heart full of compassion … He meditated spreading a heart full of rejoicing … He meditated spreading a heart full of equanimity to one direction, and to the second, and to the third, and to the fourth. In the same way above, below, across, everywhere, all around, he spread a heart full of equanimity to the whole world—abundant, expansive, limitless, free of enmity and ill will.

6. Of All Cities

King Mahāsudassana had 84,000 cities, with the royal capital of Kusāvatī foremost. He had 84,000 palaces, with the Palace of Principle foremost. He had 84,000 chambers, with the great foyer foremost. He had 84,000 couches made of gold, silver, ivory, and hardwood. They were spread with woollen covers—shag-piled, pure white, or embroidered with flowers—and spread with a fine deer hide, with a canopy above and red pillows at both ends. He had 84,000 bull elephants with gold adornments and banners, covered with gold netting, with the royal bull elephant named Sabbath foremost. He had 84,000 horses with gold adornments and banners, covered with gold netting, with the royal steed named Thundercloud foremost. He had 84,000 chariots upholstered with the hide of lions, tigers, and leopards, and cream rugs, with gold adornments and banners, covered with gold netting, with the chariot named Triumph foremost. He had 84,000 jewels, with the jewel-treasure foremost. He had 84,000 women, with Queen Subhaddā foremost. He had 84,000 householders, with the householder-treasure foremost. He had 84,000 aristocrat vassals, with the counselor-treasure foremost. He had 84,000 milk-cows with silken reins and bronze pails. He had 8,400,000,000 fine cloths of linen, cotton, silk, and wool. He had 84,000 servings of food, which were presented to him as offerings in the morning and evening.

Now at that time his 84,000 royal elephants came to attend on him in the morning and evening. Then King Mahāsudassana thought, ‘What if instead half of the elephants took turns to attend on me at the end of each century?’ He instructed the counselor-treasure to do this, and so it was done.

7. The Visit of Queen Subhaddā

Then, after many years, many hundred years, many thousand years had passed, Queen Subhaddā thought, ‘It is long since I have seen the king. Why don’t I go to see him?’

So the queen addressed the ladies of the harem, ‘Come, bathe your heads and dress in yellow. It is long since we saw the king, and we shall go to see him.’

‘Yes, ma’am,’ replied the ladies of the harem. They did as she asked and returned to the queen.

Then the queen addressed the counselor-treasure, ‘Dear counselor-treasure, please ready the army of four divisions. It is long since we saw the king, and we shall go to see him.’

‘Yes, my queen,’ he replied, and did as he was asked. He informed the queen, ‘My queen, the army of four divisions is ready, please go at your convenience.’

Then Queen Subhaddā together with the ladies of the harem went with the army to the Palace of Principle. She ascended the palace and went to the great foyer, where she stood leaning against a door-post.

Hearing them, the king thought, ‘What’s that, it sounds like a big crowd!’ Coming out of the foyer he saw Queen Subhaddā leaning against a door-post and said to her, ‘Please stay there, my queen, don’t enter in here.’

Then he addressed a certain man, ‘Come, mister, bring the golden couch from the great foyer and set it up in the golden palm grove.’

‘Yes, Your Majesty,’ that man replied, and did as he was asked. The king laid down in the lion’s posture—on the right side, placing one foot on top of the other—mindful and aware.

Then Queen Subhaddā thought, ‘The king’s faculties are so very clear, and the complexion of his skin is pure and bright. Let him not pass away!’ She said to him, ‘Sire, you have 84,000 cities, with the royal capital of Kusāvatī foremost. Arouse desire for these! Take an interest in life!’

And she likewise urged the king to live on by taking an interest in all his possessions as described above.

When the queen had spoken, the king said to her, ‘For a long time, my queen, you have spoken to me with loving, desirable, pleasant, and agreeable words. And yet in my final hour, your words are undesirable, unpleasant, and disagreeable!’

‘Then how exactly, Your Majesty, am I to speak to you?’

‘Like this, my queen: “Sire, we must be parted and separated from all we hold dear and beloved. Don’t pass away with concerns. Such concern is suffering, and it’s criticized. Sire, you have 84,000 cities, with the royal capital of Kusāvatī foremost. Give up desire for these! Take no interest in life!”’ And so on for all the king’s possessions.

When the king had spoken, Queen Subhaddā cried and burst out in tears. Wiping away her tears, the queen said to the king: ‘Sire, we must be parted and separated from all we hold dear and beloved. Don’t pass away with concerns. Such concern is suffering, and it’s criticized. Sire, you have 84,000 cities, with the royal capital of Kusāvatī foremost. Give up desire for these! Take no interest in life!’ And she continued, listing all the king’s possessions.

8. Rebirth in the Brahmā Realm

Not long after that, King Mahāsudassana passed away. And the feeling he had close to death was like a householder or their child falling asleep after eating a delectable meal.

When he passed away King Mahāsudassana was reborn in a good place, a Brahmā realm. Ānanda, King Mahāsudassana played children’s games for 84,000 years. He ruled as viceroy for 84,000 years. He ruled as king for 84,000 years. He led the spiritual life as a layman in the Palace of Principle for 84,000 years. And having developed the four Brahmā meditations, when his body broke up, after death, he was reborn in a good place, a Brahmā realm.

Now, Ānanda, you might think: ‘Surely King Mahāsudassana must have been someone else at that time?’ But you should not see it like that. I myself was King Mahāsudassana at that time.

Mine were the 84,000 cities, with the royal capital of Kusāvatī foremost. And mine were all the other possessions.

Of those 84,000 cities, I only stayed in one, the capital Kusāvatī. Of those 84,000 mansions, I only dwelt in one, the Palace of Principle. Of those 84,000 chambers, I only dwelt in the great foyer. Of those 84,000 couches, I only used one, made of gold or silver or ivory or heartwood. Of those 84,000 bull elephants, I only rode one, the royal bull elephant named Sabbath. Of those 84,000 horses, I only rode one, the royal horse named Thundercloud. Of those 84,000 chariots, I only rode one, the chariot named Triumph. Of those 84,000 women, I was only served by one, a maiden of the aristocratic or merchant classes. Of those 8,400,000,000 cloths, I only wore one pair, made of fine linen, cotton, silk, or wool. Of those 84,000 servings of food, I only had one, eating at most a serving of rice and suitable sauce.

See, Ānanda! All those conditioned phenomena have passed, ceased, and perished. So impermanent are conditions, so unstable are conditions, so unreliable are conditions. This is quite enough for you to become disillusioned, dispassionate, and freed regarding all conditions.

Six times, Ānanda, I recall having laid down my body at this place. And the seventh time was as a wheel-turning monarch, a just and principled king, at which time my dominion extended to all four sides, I achieved stability in the country, and I possessed the seven treasures. But Ānanda, I do not see any place in this world with its gods, Māras, and Brahmās, this population with its ascetics and brahmins, its gods and humans where the Realized One would lay down his body for the eighth time.”

That is what the Buddha said. Then the Holy One, the Teacher, went on to say:

“Oh! Conditions are impermanent,their nature is to rise and fall;having arisen, they cease;their stilling is true bliss.”

Related Articles

bgf

Tantra

Two Truths, October 2014 – Bodh Gaya, India – Part 2 / 二諦 第二集 (宗薩欽哲仁波切)

Two Truths, October 2014 - Bodh Gaya, India - Part 2 / 二諦 第二集 (宗薩欽哲仁波切) by Dzongsar Jamyang Khyentse...

Most Popular

Nagarjuna’s Aspiration

Nagarjuna's Aspiration ******************************************************* . L1 : [Taking refuge & humbling oneself] . \ Prostration to...

Sattadhātu Sutta – SN 14.11

Saṁyutta Nikāya Kelompok Khotbah tentang Unsur-unsur 14.11. Tujuh Unsur Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, terdapat tujuh unsur ini....

Aggañña Sutta – DN 27

Dīgha Nikāya Aggañña Sutta 27. Tentang Pengetahuan tentang Asal-usul Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā...

Cloud Banks of Nectar by Longchenpa

Cloud Banks of Nectar by Longchenpa . A Yearning Supplication and Aspiration to the Three Roots . Victorious Ones and Your Sons in the ten...

Dutiyakathāvatthu Sutta – AN 10.70

Aṅguttara Nikāya 10.70. Topik Diskusi (2) Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman...

“Fundamental of the Middle Way” & “Averting the Arguments” (MulamadhyamakaKarikas & Vigrahavyavartani) by Nagarjuna – Part 2

"Fundamental of the Middle Way" & "Averting the Arguments" (MulamadhyamakaKarikas & Vigrahavyavartani) by Nagarjuna - Part 2 [CHAPTER 9 - An...

Buddha mengingat kehidupan masa lalu – DN2

Buddha mengingat kehidupan masa lalu - DN2 The Fruits of the Ascetic Life 1. A Discussion With the King’s Ministers So I have...
bgf